{"id":1243,"date":"2022-11-07T01:30:06","date_gmt":"2022-11-07T01:30:06","guid":{"rendered":"https:\/\/www.smpn3ulujami.sch.id\/?p=1243"},"modified":"2022-11-07T04:27:27","modified_gmt":"2022-11-07T04:27:27","slug":"meningkatkan-tanggung-jawab-belajar-siswa-ditinjau-dari-teori-dan-pendekatan-konseling-realita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.smpn3ulujami.sch.id\/?p=1243","title":{"rendered":"MENINGKATKAN TANGGUNG JAWAB BELAJAR SISWA DITINJAU DARI TEORI DAN PENDEKATAN KONSELING REALITA"},"content":{"rendered":"<p>Oleh : IFTITAH INDRIANI<br \/>\nSMP Negeri 3 Ulujami, Kab.Pemalang<br \/>\nE-mail: iftitahindriani60@guru.smp.belajar.id<br \/>\nABSTRAK<br \/>\nPertanggungjawaban berarti sebuah kewajiban memberikan jawaban yang merupakan<br \/>\nperhitungan atas semua hal yang terjadi. Siswa yang memiliki tanggung jawab belajar memiliki<br \/>\nkeputusan untuk menerima tugas kewajiban, kepada sesuatu diluar dirinya ataupun kepada<br \/>\ndirinya sendiri dan memiliki kebebasan untuk menentukan sikap dan pilihannya serta untuk<br \/>\nmenanggungkonsekuensinya dari penentuan sikap dan pilihannya itu. Keberhasilan belajar<br \/>\nsiswa dapat dilihat dari tanggung jawab belajarnya sehingga akan mendapatkan prestasi, karena<br \/>\nprestasi belajar siswa merupakan manifestasi dari perubahan sebagai hasil dari proses belajar.<br \/>\nSiswa yang memiliki tanggung jawab belajar memiliki keputusan untuk menerima tugas<br \/>\nkewajiban, kepada sesuatu diluar dirinya ataupun kepada dirinya sendiri dan memiliki<br \/>\nkebebasan untuk menentukan sikap dan pilihannya serta untuk menanggungkonsekuensinya<br \/>\ndari penentuan sikap dan pilihannya itu. Konseling realita dirancang untuk membantu individu<br \/>\ndalam mengendalikan perilaku dan membuat pilihan, sering kali yang baru dan sulit, dalam<br \/>\nhidup. Itu didasarkan pada teori pilihan, yang mengasumsikan bahwa manusia bertanggung<br \/>\njawab atas kehidupan mereka dan untuk apa yang mereka lakukan, rasakan, dan pikirkan.<br \/>\nKonseling realita menurut Sharf (2012) adalah untuk membantu konseli memenuhi kebutuhan<br \/>\npsikologis mereka dengan cara yang bertanggung jawab dan memuaskan. Konselor bekerja<br \/>\ndengan konseli untuk menilai seberapa baik kebutuhan ini dipenuhi dan perubahan apa yang<br \/>\nharus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan psikologis tersebut.<br \/>\nKATA KUNCI : Tanggung Jawab Belajar, Konseling Realita<br \/>\nPENDAHULUAN<br \/>\nKewajiban yang dimiliki oleh siswa untuk melaksanakan tugasnya dengan<br \/>\nbertanggung jawab atas belajarnya merupakan suatu proses usaha berdasarkan praktik atau<br \/>\npengalaman tertentu untuk mendapatkan kecakapan atau tingkah laku yang baru dengan<br \/>\nmenerima segala konsekuensi dengan penuh kesadaran dan kerelaan. Selain itu, siswa juga<br \/>\ndituntut untuk aktif dalam proses belajar (Suwardi, D. R, 2012). Siswa dituntut untuk<br \/>\nmempunyai kesadaran diri dalam belajar agar dapat mencapai proses perkembangan belajar<br \/>\nyang maksimal. Menurut Buana, M. F. (2012) siswa dituntut dan didorong untuk aktif dan<br \/>\nterlibat langsung dalam proses pembelajaran, sehingga mampu membangkitkan motivasi<br \/>\nbelajar siswa.<br \/>\nTanggung jawab belajar merupakan kewajiban yang harus dilakukan siswa terhadap<br \/>\nbelajarnya. Siswa dikatakan bertanggung jawab terhadap belajar apabila mampu melaksanakan<br \/>\ntugas sebagai siswa dengan baik. Pada hakikatnya hanya masing-masing individu yang dapat<br \/>\nbertanggungjawab yaitu individu yang dapat bertanggungjawab terhadap tindakannya dan<br \/>\nmempertanggungjawabkan perbuatannya hanyalah individu yang mengambil keputusan dan<br \/>\nbertindak tanpa tekanan dari pihak manapun atau secara bebas. Pertanggungjawaban berarti<br \/>\nsebuah kewajiban memberikan jawaban yang merupakan perhitungan atas semua hal yang<br \/>\nterjadi. Siswa yang memiliki tanggung jawab belajar memiliki keputusan untuk menerima<br \/>\ntugas kewajiban, kepada sesuatu diluar dirinya ataupun kepada dirinya sendiri dan memiliki<br \/>\nkebebasan untuk menentukan sikap dan pilihannya serta untuk menanggungkonsekuensinya<br \/>\ndari penentuan sikap dan pilihannya itu.<br \/>\nKonseling realita dirancang untuk membantu individu dalam mengendalikan perilaku<br \/>\ndan membuat pilihan, sering kali yang baru dan sulit, dalam hidup. Itu didasarkan pada teori<br \/>\npilihan, yang mengasumsikan bahwa manusia bertanggung jawab atas kehidupan mereka dan<br \/>\nuntuk apa yang mereka lakukan, rasakan, dan pikirkan. Menurut (Glasser, 2000) pencapaian<br \/>\nidentitas sukses terikat pada konsep 3R yaitu Responsibility, Reality, Right. Keadaan dimana<br \/>\nindividu dapat menerima kondisi yang dihadapinya, dicapai dengan menunjukkan total<br \/>\nbehavioral (perilaku total), yakni melakukan sesuatu (doing), berfikir (thingking), merasakan<br \/>\n(feeling), dan menunjukkan respons fisiologis (physiology) secara bertanggung jawab<br \/>\n(responsibility), sesuai realita (reality), dan benar (right) (Corey, 2017).<br \/>\nIndividu tidak dilahirkan papan tulis kosong yang menunggu untuk mendapatkan<br \/>\npengaruh eksternal yang termotivasi oleh masyarakat di dunia di sekitarnya. Sebaliknya,<br \/>\nindividu dilahirkan dengan lima kebutuhan dikodekan genetik yang mendorong semua hidup<br \/>\nindividu mengenai survival need \/ kebutuhan bertahan hidup, love and belonging \/ cinta dan<br \/>\nkepemilikan, power \/ kekuatan, fun \/ kesenangan, freedom \/ kebebasan. Setiap individu<br \/>\nmemiliki semua lima kebutuhan, tetapi berbeda dalam kekuatan. Glasser merasa bahwa dia<br \/>\nbisa mewujudkan perubahan dalam pemikiran dan perasaan. Meskipun berbicara tentang<br \/>\nperasaan itu dapat diterima, itu tidak menjadi fokus utama terapi. Dia ingin membantu klien<br \/>\nmemilih untuk membuat perubahan dalam hidup mereka dan tetap berpegang pada pilihan itu.<br \/>\nDengan melakukan itu, dia tidak akan menerima alasan dari klien. Sebaliknya, dia bekerja<br \/>\nkeras untuk itu membantu mereka mengendalikan hidup mereka (Sharf, 2012).<br \/>\nPEMBAHASAN<br \/>\nTanggung Jawab Belajar<br \/>\nTanggung jawab belajar merupakan suatu tujuan agar mutu pendidikan yang bagus<br \/>\ndapat tercapai, maka seorang siswa harus belajar dengan tekun karena tanggung jawab seorang<br \/>\nsiswa adalah belajar. Belajar adalah suatu proses usaha dimana seseorang berinteraksi langsung<br \/>\ndengan semua alat inderanya terhadap obyek belajar dan lingkungan dengan membaca,<br \/>\nmengamati, mendengarkan dan meniru sehingga menghasilkan suatu tingkah laku yang<br \/>\nmengalami perubahan seperti dalam pengertian, cara berpikir, kebiasaan, ketrampilan,<br \/>\nkecakapan ataupun sikap yang bertujuan untuk penguasaan materi ilmu pengetahuan.<br \/>\nKeberhasilan belajar siswa dapat dilihat dari tanggung jawab belajarnya sehingga akan<br \/>\nmendapatkan prestasi, karena prestasi belajar siswa merupakan manifestasi dari perubahan<br \/>\nsebagai hasil dari proses belajar. Siswa yang memiliki tanggung jawab belajar memiiki<br \/>\nkeputusan untuk menerima tugas kewajiban, kepada sesuatu diluar dirinya ataupun kepada<br \/>\ndirinya sendiri dan memiliki kebebasan untuk menentukan sikap dan pilihannya serta untuk<br \/>\nmenanggungkonsekuensinya dari penentuan sikap dan pilihannya itu.<br \/>\nFaktor yang Mempengaruhi Tanggung Jawab Belajar<br \/>\nPembentukan tanggung jawab belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor yang memiliki<br \/>\npengaruh besar terhadap tanggung jawab individu. Adapun beberapa faktor yang<br \/>\nmempengaruhi tanggung jawab belajar. Faktor-faktor tersebut yang terdapat pada diri individu,<br \/>\ntetapi ada pula yang di luar dari diri individu. Dalam hal ini faktor yang mempengaruhi proses<br \/>\nbelajar ada tujuh faktor adalah sebagai berikut :<br \/>\n\uf076 Faktor Kecerdasan<br \/>\nKemampuan individu untuk melakukan kegiatan berfikir yang bersifatnya rumit dan<br \/>\nabstrak. Tingkat kecerdasan dari masing-masing tidak sama. Ada yang tinggi, ada yang<br \/>\nsedang dan ada pula yang rendah. Individu yang tingkat kecerdasannya tinggi dapat<br \/>\nmengolah gagasan yang abstrak, rumit dan sulit dilakukan dengan cepat tanpa banyak<br \/>\nkesulitan-kesulitan dibandingkan dengan individu yang kurang cerdas. Individu yang<br \/>\ncerdas itu dapat memikirkan dan mengerjakan lebih banyak, lebih cepat dengan tenaga<br \/>\nyang relatif sedikit.<br \/>\nKecerdasan adalah suatu kemapuan yang dibawa dari lahir sedangkan pendidikan tidak<br \/>\ndapat meningkatkannya, tetapi hanya dapat mengembangkannya. Namun hal ini tingginya<br \/>\nkecerdasan individu bukanlah suatu jaminan bahwa ia akan berhasil menyelesaikan<br \/>\npendidikan dengan baik, karena keberhasilan dalam belajar bukan hanya ditentukan oleh<br \/>\nkecerdasan saja tetapi juga oleh faktor-faktor lainnya.<br \/>\n\uf076 Faktor Belajar<br \/>\nSemua segi kegiatan belajar, misalnya individu kurang dapat memusatkan perhatian<br \/>\nkepada pelajaran yang sedang dihadapi, tidak dapat menguasai kaidah yang berkaitan<br \/>\nsehingga tidak dapat membaca seluruh bahan yang seharusnya dibaca, termasuk di sini<br \/>\nkurang menguasai cara-cara belajar efektif dan efisien.<br \/>\n\uf076 Faktor Sikap<br \/>\nPengaruh faktor sikap terhadap kegiatan dan keberhasilan siswa dalam belajar, sikap dapat<br \/>\nmenentukan apakah individu akan dapat belajar dengan lancar atau tidak, tahan lama<br \/>\nbelajar atau tidak, senang pelajaran yang di hadapinya atau tidak dan banyak lagi yang<br \/>\nlain. Diantara sikap yang dimaksud di sini adalah minat, keterbukaan pikiran, prasangka<br \/>\natau kesetiaan. Sikap yang positif terhadap pelajaran merangsang cepatnya kegiatan<br \/>\nbelajar.<br \/>\n\uf076 Faktor Kegiatan<br \/>\nFaktor yang ada kaitannya dengan kesehatan, kesegaran jasmani dan keadaan fisik<br \/>\nseseorang. Sebagaimana telah diketahui, badan yang tidak sehat membuat konsentrasi<br \/>\npikiran terganggu sehingga menganggu kegiatan belajar.<br \/>\n\uf076 Faktor Emosi dan Sosial<br \/>\nFaktor emosi seperti tidak senang dan rasa suka dan faktor sosial seperti persaingan dan<br \/>\nkerja sama sangat besar pengaruhnya dalam proses belajar. Ada diantara faktor ini yang<br \/>\nsifatnya mendorong terjadinya belajar tetapi ada juga yang menjadi hambatan terhadap<br \/>\nbelajar efektif.<br \/>\n\uf076 Faktor Lingkungan<br \/>\nKeadaan dan suasana tempat seseorang belajar. Suasana dan keadaan tempat belajar itu<br \/>\nturut juga menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan belajar. Kebisingan, bau busuk dan<br \/>\nnyamuk yang menganggu pada waktu belajar dan keadaan yang serba kacau di tempat<br \/>\nbelajar sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar. Hubungan yang kurang<br \/>\nserasi dengan teman dapat menganggu kosentrasi dalam belajar.<br \/>\n\uf076 Faktor Guru<br \/>\nKepribadian guru, hubungan guru dengan siswa, kemampuan guru mengajar dan perhatian<br \/>\nguru terhadap kemampuan siswanya turut mempengaruhi keberhasilan belajar. Guru yang<br \/>\nkurang mampu dengan baik dalam mengajar dan yang kurang menguasai bahan yang<br \/>\ndiajarkan dapat menimbulkan rasa tidak suka kepada yang diajarkan dan kurangnya<br \/>\ndorongan untuk menguasainya dipihak siswa. Sebaliknya guru yang pandai mengajar yang<br \/>\ndapat menimbulkan pada diri siswa rasa menggemari bahan yang diajarkannya sehingga<br \/>\ntanpa disuruh pun siswa banyak menambah pengetahuannya dibidang itu dengan membaca<br \/>\nbuku-buku, majalah dan bahan cetak lainnya. Guru dapat juga menimbulkan semangat<br \/>\nbelajar yang tinggi dan dapat juga mengendorkan keinginan belajar yang sungguhsungguh. Siswa yang baik berusaha mengatasi kesulitan ini dengan memusatkan perhatian<br \/>\nkepada bahan pelajaran, bukan kepada kepribadian gurunya.<br \/>\nTujuan Konseling Realita<br \/>\nTujuan dari konseling realita menurut Sharf (2012) adalah untuk membantu konseli memenuhi<br \/>\nkebutuhan psikologis mereka dengan cara yang bertanggung jawab dan memuaskan. Konselor<br \/>\nbekerja dengan konseli untuk menilai seberapa baik kebutuhan ini dipenuhi dan perubahan apa<br \/>\nyang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan psikologis tersebut. Menurut Darminto<br \/>\ndalam Masrohan dan Pertiwi (2018:5) tujuan mendasar dari konseling realita adalah membantu<br \/>\nkonseli agar memeiliki kontrol yang lebih besar terhadap kehidupannya sendiri dan mampu<br \/>\nmembuat pilihan yang lebih baik. Pilihan yang baik tersebut merupakan suatu pilihan yang<br \/>\nbijaksana yang dipersepsi sebagai pilihan yang memnuhi kriteria sebagai berikut :<br \/>\n\uf076 Dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar<br \/>\n\uf076 Bertanggung jawab<br \/>\n\uf076 Realistik<br \/>\n\uf076 Memungkinkan untuk dapat menjalin hubungan yang saling memuaskan dengan orang<br \/>\nlain<br \/>\n\uf076 Memungkinkan untuk mengembangkan identitas berhasil, dan memungkinkan untuk<br \/>\nmemiliki keterampilan yang konsisten untuk membentuk tindakan yang sehat yang<br \/>\nmeningkatkan perilaku totalnya.<br \/>\nTahapan Konseling Realita<br \/>\nPraktik terapi realitas terbaik dapat dikonseptualisasikan sebagai siklus negara<br \/>\n(Wubbolding, 2015a), yang terdiri dari dua komponen utama: (1) menciptakan lingkungan<br \/>\nkonseling dan (2) menerapkan prosedur tertentu yang menyebabkan perubahan perilaku.<br \/>\n\uf076 The Counseling Environment \/ Lingkungan Konseling<br \/>\nPraktik sisanya terapi realitas pada asumsi bahwa lingkungan yang mendukung dan<br \/>\ntantangan memungkinkan klien untuk mulai membuat perubahan hidup. Hubungan<br \/>\nterapeutik adalah dasar untuk latihan yang efektif; apabila ini kurang, ada sedikit harapan<br \/>\nbahwa sistem dapat berhasil dilaksanakan. Konselor yang berharap untuk aliansi<br \/>\nterapeutik berusaha untuk menghindari berdebat, menyerang, menuduh, merendahkan,<br \/>\nmenyalahkan, memerintah, mengkritik, menemukan kesalahan, memaksa, mendorong<br \/>\nalasan, menyimpan dendam, menanamkan rasa takut, atau menyerah dengan mudah<br \/>\n(Wubbolding, 2011a, 2011b, 2015a). Dalam waktu singkat, klien umumnya mulai<br \/>\nmenghargai peduli, menerima, lingkungan teori pilihan tanpa paksaan. Hal ini menjadi<br \/>\nconfrontive namun selalu peduli lingkungan ini bahwa klien belajar untuk menciptakan<br \/>\nlingkungan memuaskan yang mengarah ke hubungan yang sukses. Dalam suasana<br \/>\npemaksaan bebas ini, klien merasa bebas untuk menjadi kreatif dan mulai mencoba<br \/>\nperilaku baru.<br \/>\n\uf076 Procedures That Lead to Change \/ Prosedur Memimpin Perubahan<br \/>\nTerapis realitas beroperasi pada asumsi bahwa individu termotivasi untuk perubahan<br \/>\nketika individu yakin bahwa perilaku sekarang ini tidak memenuhi kebutuhan dan ketika<br \/>\nindividu percaya dapat memilih perilaku lain yang akan membawa lebih dekat dengan apa<br \/>\nyang diinginkan. Terapis realita mulai dengan meminta klien apa yang mereka inginkan<br \/>\ndari terapi. Terapis mengambil misteri dan ketidakpastian dari proses terapeutik. Mereka<br \/>\njuga menanyakan tentang pilihan klien membuat dalam hubungan mereka. Pada sesi<br \/>\npertama terapis terlihat terampil untuk dan mendefinisikan keinginan klien. Terapis juga<br \/>\nterlihat untuk kunci memuaskan hadir hubungan-biasanya dengan pasangan, anak, orang<br \/>\ntua, atau majikan. Terapis mungkin bertanya, \u201cBagaimana perilaku dapat Anda kontrol?\u201d<br \/>\nPertanyaan ini mungkin perlu diminta beberapa kali selama beberapa sesi berikutnya untuk<br \/>\nmenghadapi resistensi klien untuk melihat perilakunya sendiri. Penekanannya adalah pada<br \/>\nmendorong klien untuk fokus pada apa yang dia bisa mengendalikan. Ketika klien mulai<br \/>\nmenyadari bahwa mereka dapat mengontrol hanya perilaku mereka sendiri, terapi sedang<br \/>\nberlangsung. Sisa terapi berfokus pada bagaimana klien dapat membuat pilihan yang lebih<br \/>\nbaik. Ada lebih banyak pilihan yang tersedia dari klien menyadari, dan terapis<br \/>\nmengeksplorasi pilihan-pilihan ini mungkin. Klien mungkin akan terjebak dalam<br \/>\nkesengsaraan, menyalahkan, dan masa lalu, tetapi mereka dapat memilih untuk perubahanbahkan jika orang lain dalam hubungan tidak berubah. Wubbolding (2011a) menunjukkan<br \/>\nbahwa klien dapat belajar mereka tidak pada belas kasihan orang lain, bukan korban,<br \/>\nmampu mendapatkan rasa kontrol batin, dan memiliki rentang pilihan terbuka untuk<br \/>\nmereka. Singkatnya, klien dalam terapi realitas sering memperoleh rasa harapan untuk<br \/>\nmasa depan yang lebih baik. terapis realitas mengeksplorasi prinsip teori pilihan dengan<br \/>\nklien, membantu mereka mengidentifikasi kebutuhan dasar, menemukan dunia kualitas<br \/>\nmereka, dan, akhirnya, membantu klien memahami bahwa mereka memilih total perilaku<br \/>\nyang gejala mereka. Dalam setiap contoh ketika klien membuat perubahan, itu adalah<br \/>\npilihan mereka. Dengan bantuan terapis, klien belajar untuk membuat pilihan yang lebih<br \/>\nbaik daripada yang mereka lakukan ketika mereka berada di mereka sendiri. Melalui teori<br \/>\npilihan, klien dapat memperoleh dan mempertahankan hubungan yang sukses.<br \/>\nSistem \u201cWDEP\u201d<br \/>\nWubbolding (2000, 2015a, 2015c) menggunakan WDEP untuk menggambarkan kunci<br \/>\nprosedur dalam praktek terapi realitas. Sistem WDEP dapat digunakan untuk membantu klien<br \/>\nmengeksplorasi keinginan mereka, hal-hal yang mungkin bisa mereka lakukan, peluang untuk<br \/>\nevaluasi diri, dan desain rencana untuk perbaikan (Wubbolding, 2007, 2011a, 2011b, 2015b,<br \/>\n2015c). Didasarkan pada teori pilihan, sistem WDEP membantu orang dalam memenuhi<br \/>\nkebutuhan dasar mereka. Setiap huruf mengacu pada sekelompok strategi: W = keinginan,<br \/>\nkebutuhan, dan persepsi; D = arah dan melakukan; E = evaluasi diri; dan P = perencanaan.<br \/>\nStrategi ini dirancang untuk mempromosikan perubahan. Berikut ini penjelasan sistem WDEP:<br \/>\n\uf076 W = Wants, Needs, And Perceptions \/ Ingin (Menjelajahi Keinginan, Kebutuhan, dan<br \/>\nPersepsi). Terapis realitas membantu klien dalam menemukan keinginan dan harapan<br \/>\nmereka. Semua keinginan terkait dengan lima kebutuhan dasar.<br \/>\n\uf076 D = Direction and Doing \/ Arah dan Melakukan. Fokus pada saat ini ditandai dengan<br \/>\npertanyaan kunci diminta oleh terapis realitas: \u201cApa yang kamu lakukan?\u201d Meskipun<br \/>\nmasalah mungkin berakar di masa lalu, klien perlu belajar bagaimana berurusan dengan<br \/>\nmereka di masa sekarang dengan belajar cara yang lebih baik untuk mendapatkan apa yang<br \/>\nmereka inginkan. Masalah harus diselesaikan baik di masa sekarang atau melalui rencana<br \/>\nuntuk masa depan.<br \/>\n\uf076 E = Self-Evaluation \/ Evaluasi diri. Landasan dari prosedur terapi realitas. \u201cMelakukan<br \/>\npencarian dan tidak kenal takut evaluasi diri adalah jalan kerajaan untuk perubahan<br \/>\nperilaku\u201d (Wubbolding, 2015c, p. 860). Klien diminta untuk membuat berikut evaluasi<br \/>\ndiri. Evaluasi ini melibatkan klien memeriksa arah perilaku, tindakan spesifik, keinginan,<br \/>\npersepsi, arah baru, dan rencana (Wubbolding, 2011b, 2015b). Wubbolding percaya<br \/>\nbahwa klien sering ada masalah dengan hubungan yang signifikan, yang merupakan akar<br \/>\ndari banyak ketidakpuasan mereka.<br \/>\n\uf076 P = Planning \/ Perencanaan dan Aksi. Setelah klien menentukan apa yang mereka ingin<br \/>\nberubah, mereka umumnya siap untuk mengeksplorasi perilaku lain yang mungkin dan<br \/>\nmerumuskan rencana aksi.<br \/>\nAplikasi untuk Konseling Kelompok<br \/>\nDengan penekanan pada hubungan koneksi dan interpersonal, terapi realita baik untuk<br \/>\nberbagai jenis konseling kelompok. Kelompok menyediakan anggota dengan banyak<br \/>\nkesempatan untuk menjelajahi cara untuk memenuhi kebutuhan mereka melalui hubungan<br \/>\nyang terbentuk dalam kelompok. Secara khusus, sistem WDEP dapat diterapkan untuk<br \/>\nmembantu anggota kelompok memenuhi kebutuhan dasar mereka. Jika anggota berbicara<br \/>\ntentang pengalaman masa lalu mereka atau alasan untuk perilaku mereka saat ini, pemimpin<br \/>\nkelompok mengarahkan mereka kepada apa yang mereka lakukan saat ini.<br \/>\nDari awal dari sebuah kelompok, para anggota dapat diminta untuk mengambil jujur<br \/>\nmelihat apa yang mereka lakukan dan untuk memperjelas apakah perilaku mereka semakin<br \/>\nmereka apa yang mereka katakan mereka inginkan. Setelah anggota kelompok mendapatkan<br \/>\ngambaran yang lebih jelas tentang apa yang mereka miliki dalam hidup mereka sekarang dan<br \/>\napa yang mereka ingin tampil beda, mereka dapat menggunakan kelompok sebagai tempat<br \/>\nuntuk mengeksplorasi program alter-pribumi perilaku. Model ini cocok untuk mengharapkan<br \/>\nanggota untuk melaksanakan pekerjaan rumah antara pertemuan kelompok. Namun, para<br \/>\nanggota, dengan bantuan pemimpin, yang mengevaluasi perilaku mereka sendiri dan<br \/>\nmemutuskan apakah mereka ingin mengubah beberapa aspek kehidupan mereka. Anggota juga<br \/>\nmemimpin dalam memutuskan apa jenis tugas pekerjaan rumah mereka akan ditetapkan untuk<br \/>\ndiri mereka sendiri sebagai cara untuk mencapai tujuan mereka.<br \/>\nTeknik-Teknik Konseling Realita<br \/>\n\uf076 Questioning \/ Mempertanyakan. Pertanyaan memainkan peran penting dalam<br \/>\nmengeksplorasi perilaku total, mengevaluasi apa yang dilakukan klien, dan membuat<br \/>\nrencana spesifik. Wubbolding (1988) mengemukakan bahwa pertanyaan dapat bermanfaat<br \/>\nbagi terapis realitas dalam empat cara: untuk memasuki dunia batin klien, untuk<br \/>\nmengumpulkan informasi, untuk memberikan informasi, dan untuk bantu klien mengambil<br \/>\nkendali yang lebih efektif.<br \/>\n\uf076 Being Positive \/ Menjadi Positif. Terapis realitas berfokus pada apa yang dapat dilakukan<br \/>\nklien. Peluang diambil untuk memperkuat tindakan positif dan perencanaan yang<br \/>\nkonstruktif.<br \/>\n\uf076 Metaphors\/ Metafora. Menghadiri dan menggunakan bahasa klien dapat sangat membantu<br \/>\ndalam berkomunikasi memahami kepada klien melalui penggunaan bahasanya<br \/>\n(Wubbolding &amp; Brickell, 1998).<br \/>\n\uf076 Humor. Keterlibatan ramah yang terapis realita mencoba untuk mengembangkan dengan<br \/>\nklien mereka, humor cocok secara alami. Ini bisa menghilangkan tekanan dari kekecewaan<br \/>\nklien jika rencana tidak terealisasi. Ketika terapis dan klien dapat berbagi lelucon, ada<br \/>\npenyamaan kekuatan dan berbagi kebutuhan (menyenangkan). Sejauh humor dapat<br \/>\nmenciptakan rasa yang lebih besar keterlibatan yang ramah, juga membantu memenuhi<br \/>\nkebutuhan klien akan rasa memiliki. Tentu saja, humor tidak bisa dipaksakan. Beberapa<br \/>\nterapis mungkin jarang menggunakan humor, lainnya dalam satu jenis situasi, dan terapis<br \/>\nlain dalam jenis lain.<br \/>\n\uf076 Confrontation \/ Konfrontasi. Terapis realita tidak menerima alasan klien dan tidak<br \/>\nmenyerah dengan mudah dalam pekerjaan mereka, konfrontasi tidak bisa dihindari.<br \/>\nMembantu klien untuk menghasilkan merencanakan dan berkomitmen untuk<br \/>\nmerencanakan perilaku yang sulit diubah artinya seringkali rencana tidak dilaksanakan<br \/>\nsesuai keinginan.<br \/>\n\uf076 Paradoxical Techniques \/ Teknik Paradoksal. Dalam terapi realita, membuat rencana dan<br \/>\nmendapatkan klien komitmen terhadap rencana umumnya dapat dilakukan secara<br \/>\nlangsung. Namun, klien terkadang resisten untuk melaksanakan rencana yang mereka<br \/>\nbuat. Teknik-teknik paradoks adalah yang itu memberikan instruksi yang kontradiktif<br \/>\nkepada klien (Wubbolding &amp; Brickell, 1998). Positif perubahan dapat terjadi karena<br \/>\nmengikuti salah satu opsi yang diberikan oleh terapis.<br \/>\nSIMPULAN DAN REKOMENDASI<br \/>\nTanggung jawab belajar merupakan kewajiban yang harus dilakukan siswa terhadap<br \/>\nbelajarnya. Siswa dikatakan bertanggung jawab terhadap belajar apabila mampu melaksanakan<br \/>\ntugas sebagai siswa dengan baik. Pada hakikatnya hanya masing-masing individu yang dapat<br \/>\nbertanggungjawab yaitu individu yang dapat bertanggungjawab terhadap tindakannya dan<br \/>\nmempertanggungjawabkan perbuatannya hanyalah individu yang mengambil keputusan dan<br \/>\nbertindak tanpa tekanan dari pihak manapun atau secara bebas. Pembentukan tanggung jawab<br \/>\nbelajar dipengaruhi oleh beberapa faktor yang memiliki pengatuh besar terhadap tanggung<br \/>\njawab individu. Faktor-faktor tersebut yang terdapat pada diri individu, tetapi ada pula yang di<br \/>\nluar dari diri individu.<br \/>\nTujuan dari konseling realita menurut Sharf (2012) adalah untuk membantu konseli<br \/>\nmemenuhi kebutuhan psikologis mereka dengan cara yang bertanggung jawab dan<br \/>\nmemuaskan. Konselor bekerja dengan konseli untuk menilai seberapa baik kebutuhan ini<br \/>\ndipenuhi dan perubahan apa yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan psikologis<br \/>\ntersebut. Praktik terapi realitas terbaik dapat dikonseptualisasikan sebagai siklus negara<br \/>\n(Wubbolding, 2015a), yang terdiri dari dua komponen utama: (1) menciptakan lingkungan<br \/>\nkonseling dan (2) menerapkan prosedur tertentu yang menyebabkan perubahan perilaku.<br \/>\nWubbolding (2000, 2015a, 2015c) menggunakan WDEP untuk menggambarkan kunci<br \/>\nprosedur dalam praktek terapi realitas. Sistem WDEP dapat digunakan untuk membantu klien<br \/>\nmengeksplorasi keinginan mereka, hal-hal yang mungkin bisa mereka lakukan, peluang untuk<br \/>\nevaluasi diri, dan desain rencana untuk perbaikan (Wubbolding, 2007, 2011a, 2011b, 2015b,<br \/>\n2015c). Didasarkan pada teori pilihan, sistem WDEP membantu orang dalam memenuhi<br \/>\nkebutuhan dasar mereka. Setiap huruf mengacu pada sekelompok strategi: W = keinginan,<br \/>\nkebutuhan, dan persepsi; D = arah dan melakukan; E = evaluasi diri; dan P = perencanaan.<br \/>\nAplikasi untuk konseling kelompok, dengan penekanan pada hubungan koneksi dan<br \/>\ninterpersonal, terapi realita baik untuk berbagai jenis konseling kelompok. Kelompok<br \/>\nmenyediakan anggota dengan banyak kesempatan untuk menjelajahi cara untuk memenuhi<br \/>\nkebutuhan mereka melalui hubungan yang terbentuk dalam kelompok. Ada beberapa teknikteknik konseling realita yang dapat digunakan yaitu Questioning \/ Mempertanyakan, Being<br \/>\nPositive \/ Menjadi Positif, Metaphors \/ Metafora, Humor, Confrontation \/ Konfrontasi,<br \/>\nParadoxical Techniques \/ Teknik Paradoksal.<br \/>\nBerdasarkan simpulan yang telah dipaparkan, maka penulis mengajukan rekomendasi<br \/>\nyang diharapkan dapat berguna untuk meningkatkan tanggung jawab belajar siswa ditinjau dari<br \/>\nteori dan pendekatan konseling realita. (1) kepada siswa, hendaknya mampu meningkatkan<br \/>\ntanggung jawab belajar dengan bersikap aktif dan responsif selama melaksanakan kegiatan<br \/>\nbelajar baik di sekolah maupun di rumah. (2) kepada guru bimbingan dan konseling, hendaknya<br \/>\nmampu membantu konseli untuk meningkatkan tanggung jawab belajar dengan memberikan<br \/>\nlayanan bimbingan dan konseling yang optimal. (3) kepada orang tua, hendaknya mampu<br \/>\nmembantu putra-putrinya untuk meningkatkan tanggung jawab belajar dengan bersikap peduli<br \/>\ndan perhatian mengenai kegiatan belajar yang dilakukan oleh putra-putrinya.<br \/>\nREFERENSI<br \/>\nAdiputra, Sofwan. 2016. Teknik WDEP System Dalam Meningkatkan Keterampilan Belajar<br \/>\nSiswa Underachiever. Jurnal Fokus Konseling Volume 2 No. 1, Hlm. 32-39.<br \/>\nProgram Studi Bimbingan dan Konseling STKIP Muhammadiyah Pringsewu<br \/>\nLampung. http:\/\/ejournal.stkipmpringsewu-lpg.ac.id\/index.php\/fokus<br \/>\nBariyyah dkk. 2018. Konseling Realita untuk Meningkatkan Tanggung Jawab Belajar Siswa.<br \/>\nKonselor. http:\/\/ejournal.unp.ac.id\/index.php\/konselor . Volume 7 Number 1, pp.<br \/>\n1-8. Universitas Kanjuruhan Malang. ISSN: Print 1412-9760 \u2013 Online 2541-5948<br \/>\nDOI: 10.24036\/02018718767-0-00.<br \/>\nCorey, Gerald. 2017. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy, Tenth Edition.<br \/>\nUSA: Cengage Learning.<br \/>\nFall, Kevin A, dkk. 2017. Theoretical Models Of Counseling Psychotherapy. New York:<br \/>\nRoutledge.<br \/>\nMahsunah, Faridatul. 2017. Upaya Meningkatkan Tanggung Jawab Belajar Melalui Konseling<br \/>\nKelompok Realita Pada Siswa Kelas VIII SMPN 1 Prambon Nganjuk Tahun<br \/>\nPelajaran 2015\/2016. Universitas Nusantara PGRI Kediri. Hal 2-6.<br \/>\n12.1.01.01.0135. simki.unpkediri.ac.id.<br \/>\nSharf, Richard. S. 2012. Theories of Psychotherapy and Counseling: Concepts and Cases, 5th<br \/>\nEdition. USA: Brooks\/Cole.<\/p>\n<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on the_content --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on the_content -->","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : IFTITAH INDRIANI SMP Negeri 3 Ulujami, Kab.Pemalang E-mail: iftitahindriani60@guru.smp.belajar.id ABSTRAK Pertanggungjawaban berarti sebuah kewajiban memberikan jawaban yang merupakan<!-- AddThis Advanced Settings generic via filter on get_the_excerpt --><!-- AddThis Share Buttons generic via filter on get_the_excerpt --><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1249,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[51],"tags":[],"class_list":["post-1243","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.smpn3ulujami.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1243","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.smpn3ulujami.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.smpn3ulujami.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.smpn3ulujami.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.smpn3ulujami.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1243"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.smpn3ulujami.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1243\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1245,"href":"https:\/\/www.smpn3ulujami.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1243\/revisions\/1245"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.smpn3ulujami.sch.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1249"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.smpn3ulujami.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1243"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.smpn3ulujami.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1243"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.smpn3ulujami.sch.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1243"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}